Kisah Cinta Memukau; Memaknai Arti Cinta Yang Sebenarnya

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.



Memahami Arti Kedewasaan

Ada dua orang berbeda usia, tetapi yang satu terlihat lebih dewasa dibanding yang satunya lagi. Padahal umur keduanya sama. Mengapa bisa seperti itu? Kalau begitu, usia tidak menjadi patokan bagi manusia untuk disebut dewasa?

Secara hukum (yang berlaku di negara Indonesia), usia dewasa dimulai dari umur 17 tahun. Kalau belum mencapai 17 tahun belum bisa bikin KTP kan..
dan belum diizinkan nikah pula..hehe 

Namun, jika dilihat dari sudut pengertian ‘dewasa’ itu sendiri, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dewasa adalah mencapai usia akil baligh, yaitu bukan anak-anak ataupun remaja lagi.

Tentu saja masa seseorang untuk mencapai akil baligh, berbeda satu dengan lainnya. Dewasa berarti matang. Baik matang secara biologis, maupun secara psikis.

Lalu siapa yang menentukan pantas atau tidaknya seseorang itu untuk mencapai masa akil baligh?

Untukmu, Putri Manisku..

 Wahai putriku,,

engkau adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

“Wahai anak perempuanku!

Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, di mana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan bersamanya.

Wahai putriku yang belia, ketahuilah bahwasannya keagungan seorang suami yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Sungguh hiasilah hari-hari di rumahmu kelak dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah, melalui perhatian yang baik dan ta’at pada perintah suamimu. Sesungguhnya pada qana’ah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Allah ta’ala. Buatlah janji di hadapannya dan beritrospeksilah di hadapannya juga. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

“Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu

Be A Teenager Moslem

Seorang muslim yang baik adalah yang menjadikan islam sebagai jati dirinya. Sepertinya….. jarang sekali ya remaja yang tampil islami. Nngakunya beragama islam, tapi kok sepertinya malu menunjukan bahwa dia adalah seorang muslim. Hayoooo…. kira−kira kenapa ya??

1.Menganggap Islam Tidak Relevan dengan Zaman.

Hm,, kayaknya ini deh alasan pertama mengapa para remaja menjauhi islam. Katanya sih, islam itu kuno nggak ngikutin zaman. Benarkah? Bukankah islam itu rahmatan lil ‘alamin. Terus kenapa ya para remaja kok menilai islam itu kuno. Salah satu faktornya adalah kurangnya ilmu.
Sebenarnya ummat islam sendiri kenal nggak sih sama islam? Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Gimana mau bangga jadi seorang muslim, kenal agamanya aja nggak. Padahal, islam itu agama yang indah lho…. penuh ketenangan, kedamaian dan keadilan. Lihat saja suri tauladannya, Muhammad Rasulullah saw tercinta. Ia bagaikan Al−Qur’an berjalan. Kemuliaan akhlak membuat ia mendapat gelar al−amin, yang dapat di percaya. Kalo di pikir−pikir kok ada ya manusia yang hampir mendekati sempurna sperti nabi Muhammad saw. Allah telah membimbingnya dan memilihnya sebagai panutan bagi ummat ini. Tentu saja Allah memilihkankan yang baik, kalau saja panutan yang Allah pilihkan seperti kita… waaah, kacau deh dunia! Hehe, tul ga?
Jadi kesimpulannya,

Posted in Islam. 0 Comment »

Manusia Yang Diidolakan Oleh Malaikat

Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)


Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”  (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

 

Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah

 (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda,

Posted in Islam. 0 Comment »